Huntara Lalita - Lansia dan Balita

 

Gempa itu, 5 Agustus 2018 beruntun menghantam bangunan-bangunan: luluh lantak. Kurang lebih dari akhir Juli hingga oktober, energi bumi menghantui masyarakat di Gumi Sasak. Pusatnya Lombok Utara dan Lombok Timur, dan Lombok Barat. Tidak ketinggalan bagian barat: Bali terkena dampaknya. Bagitupun timurnya pulau Lombok: Pulau Sumbawa juga tidak ketinggalan dampak dari napas bumi yang dahsyat itu. Korban berjatuhan dimana-mana, kerugian, dan trauma berkepanjangan menggerogoti alam bawah sadar. Dampak demikian berkontribusi besar dalam pola pembangunan masyarakat Lombok menjadi statis pasca gempa bumi.

Wajar saja, ketakutan dimana-mana. Bayangkan berbulan-bulan gempa susulan terus menghantui. Secara massal tenda-tenda merubah tata pemukiman warga. Bangunan tenda di berbagai lokasi evakuasi dan terbuka: Sawah, ladang, bukit-bukit, lapangan, lorong-lorong. Pola tidur sudah tidak biasanya. Begitupun aktivitas sehari-hari: perkantoran, perkebunan, pendidikan, pelayaran, dan aktivitas pertemuan lainnya. Akhir Juli sampai akhir Agustus ini, mendadak macet, semacam mesin berkarat, paksa dioperasikan. Sungguh, ini pengalaman berharga Lombok.

Laporan melalui news.detik.com pada 24 Agustus beberapa bulan lalu mencatat selama bulan Agustus 555 orang meninggal. Selain meninggal, korban terdampak seperti luka-luka juga tidak kalah jumlahnya. Sementara trauma berkepanjangan dari getaran susulan menjadi faktor statisnya pembangunan. Gempa susulan hingga akhir Agustus diberitakan oleh Kompas.com sebanyak 1.973 kali, belum lagi bulan-bulan berikutnya, menambah trauma panjang bagi warga Lombok.

Selama akhir bulan September, aktivitas-aktivitas di pagi hari mulai memperlihatkan semangat baru. Terlihat semangat membangun dari keterpurukan. Bahu membahu menuju pemulihan. Tenda-tenda perlahan berkurang dari gang-gang, trotoar-trotoar. Kini keberanian bersamaan dengan kekuatan kembali ke rumah masing-masing. Mandi sudah terasa lama dari sebelumnya, dimana saat suasana gempa berhari-hari tanpa henti adalah ketakutan telah merasuk alam bawah sadar. Sekarang, pembersihan badan dan wajah kusut nan kusam dari debu-debu bangunan sudah maksimal. Kini, pekerjaan bersama adalah kepada mereka korban gempa skala paling parah. Mereka yang kini memang harus bertahan di tenda. Sebab rumah kian rata dengan tanah. Sisingkan lengan baju, bersama sama bahu-membahu menuju Gumi Sasak yang dicita-citakan. Demikinlah dampak dari pengalaman terberat warga Lombok di abad ini.

Dari segi pemulihan, tidak henti-hentinya pekerja sosial bahu membahu mengambil peran. Ada yang terus membantu menyalurkan logistik, membuka sekolah darurat, ada pula yang mengambil peran dalam trauma healing. Selain itu, pekerjaan dalam skala yang lebih panjang adalah menyambut musim hujan sembari menunggu pendirian hunian tetap. BMKG.go.id memperkirakan curah hujan telah dan akan terus berlanjut sepanjang bulan November hingga Desember. Di wilayah Lombok-NTB, BMKG menghimbau kewaspadaan atas curan hujan lokal dengan potensi sedang hingga lebat kian meningkat di bulan November 2018, ditambah dengan petir dan angin kencang. Tentu saja, hunian berbentuk tenda tak mampu bertahan lebih lama. Inilah diperlukan konsep pembangunan Huntara (Hunian Sementara) sembari menunggu hunian tetap dibangun oleh pemerintah.

Selain permasalahan tersebut di atas, konsep huntara layak huni juga perlu menjadi bahan kajian bersama. Baik pemerintah maupun pekerja sosial swasta. Seperti halnya huntara yang diperuntukkan kepada balita dan lansia korban gempa Lombok yang tidak memiliki rumah. Hal tersebut diperlukan dengan kondisi yang terparah, sebab rumah tidak ada ditambah lagi dengan kondisi fisik yang tak menentu dalam menghadapi musim hujan.

Huntara yang dikonsepkan dalam tulisan ini adalah huntara yang bersifat permanen dari kompisisi bahan tertentu.  Ukuran huntara yang diperlukan adalah tinggi sekitar 4 sampai 5 meter dengan lebar 5 sampai 6 meter. Bahan-bahan yang diperlukan adalah kayu usuk dengan potongan panjangnya 6 meter, kurang lebih dibutuhkan 40 lonjor dalam satu huntara. Sebagai atapnya diperlukan spandek dengan panjang 5 meter dan dibutuhkan 7 lembar kurang lebih. Sementara dinding diperlukan yang bertahan lama dari serapan air hujan yakni kalsibot, kurang lebih 15 lembar satu huntara, berikut dengan kelengkapan lain seperti paku dan cat jika diperlukan. Huntara dalam model ini dilengkapi satu jendela dan satu pintu sebagai sirkulasi udara. Agar memenuhi standar dasar bangunan, maka diperlukan semen dan pasir. Semen dan pasir untuk membentuk dasar sekaligus lantai dengan ketinggian 50cm di permukaan tanah. Jika dikalkulasikan anggaran yang diperlukan dalam mendirikan huntara tersebut kurang lebih tiga sampai empat juta per satu huntara. Konsep ini telah diterapkan dan realisasikan di sekitar Kecamatan Gunungsari dan Batulayar, Lombok Barat. Peruntukannya kepada warga yang paling parah, baik fisik maupun finansial, seperti keluarga lansia dan keluarga balita.

Dalam konsep pembangunannya, warga diajak saling bahu membahu, dan bergotong royong. Hal ini bertujuan untuk membangkitkan semangat pembangunan warga yang sempat statis oleh trauma gempa yang berturut-turut. Secara tidak langsung, warga diajak untuk saling mengisi satu sama lain. Pembangunan berkolaborasi seperti ini memanfaatkan modal sosial yakni kebersamaan dan adat ketimuran warga Lombok. Dalam pandangannya Francis Fukuyama pengamat sosial kemasyarakatan, bahwa modal sosial seperti interaksi sosial dan hubungan timbal balik yang baik adalah sangat dibutuhkan dalam pemulihan pembangunan warga Lombok. Konsep inilah yang diterapkan dalam tahap pembangunan huntara di desa-desa. Sisilain, hal dilakukan untuk mendorong aktivitas kerjasama warga yang produktif. Pada akhirnya, produktivitas yang sempat statis dan kesedihan mendalam tersebut melebur dalam kerja sama, bahu membahu membangun kembali Lombok tercinta.

#LombaNTBKita

Tema: Kreativitas Pembangunan Huntara

 

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru