Dari Korleko Ke Loang Baloq

Memasuki era teknologi modern, berbagai peralatan untuk kebutuhan masyarakat telah hadir dalam berbagai bentuk dan merek canggih. Namun, tentu tidak mudah untuk menanggalkan peralatan yang sifatnya tradisional. Kondisi suatu masyarakat tidak semua sama, sehingga masih memungkinkan sekelompok masyarakat untuk lebih cenderung menggunakan bahan trdisional dalam menyiasati hidupnya. Salah satu bahan bakar tradisional yang masih sering kita jumpai di tengah masyarakat adalah sabut kelapa yang berfungsi sebagai bahan bakar.


Semenjak dulu, keberadaan sabut kelapa sebagai bahan bakar tidak pernah hilang. Bahkan pada masyarakat tradisional, yang mana ketika meminta api pada tetangga, ia pun kerap menggunakan sabut kelapa sebagai alat pemindah api. Dalam perapian, sabut kelapa sering menjadi bahan pertama untuk dibakar, mengingat serat-serat yang terkandung dalam sabut kelapa tersebut sangat muda untuk terbakar, dan baranya pun dapat digunakan sebagai alat untuk membakar atau memanggang berbagai jenis hewan, seperti ikan.

Sejumlah pedagang ikan bakar di Negara kita masih kerap menggunakan sabut kelapa sebagai bahan bakar. Asap yang keluar dari bara api sabut kelapa dapat memberi aroma khas pada ikan yang dipanggang. Selain itu, para pedagang ikan bakar lebih cepat menghasilkan bara api
untuk memanggang ikan.

Pada masyarakat Lombok, khususnya pedagang ikan yang mengais rezeki di sepanjang Jalan Lingkar Selatan, Loang Baloq, Kecamatan Sekar Bela, Mataram masih tetap menggunakan sabut kelapa sebagai bahan bakar untuk memanggang ikan. Mereka beralasan, dengan menggunakan sabut kelapa, aroma khas ikan bakar lebih harum , juga karena harga sabut kelapa masih tergolong murah.

Hanya saja, pemenuhan kebutuhan bahan bakar yang berupa sabut kelapa untuk pedagang ikan yang ada di