Berburu Belut Di Jeringo

Belut adalah jenis hewan yang berkulit licin dan hidup di kondisi tanah yang berlumpur. Hewan ini banyak digemari oleh masyarakat karena selain sebagai obat penambah darah, juga memiliki rasa yang enak dan gurih. Hanya saja pemenuhan kebutuhan masyarakat untuk belut agak mengalami kesulitan karena habitat belut yang biasanya ditemukan di areal persawahan atau tempat-tempat tertentu yang alami banyak mengalami kepunahan.

Kepunahan belut di berbagai tempat-tempat tertentu dapat disebabkan oleh rendahnya pengetahuan manusia tentang ekosistem lingkungan. Dalam hal ini banyaknya pemburuh belut  yang tidak memahami keberadaan biota air yang sebagai makanan pada belut. Hingga dalam kenyataan ada banyak pemburuh belut menggunakan aki untuk “strong” buat meraih belut-belut yang ada di tempat-tempat tertentu.

Perlu dipahami bahwa penggunaan “strong” pada habitat belut bukan hanya belut yang berukuran besar dan panjang akan mengalami kematian, akan tetapi juga anak-anak belut, bahkan biota air yang mestinya sebagai makanan belut ikut mati.Inilah kelemahan manusia yang bersifat antropensentrisme, artinya menginginkan kekayaan alam sebanyak-banyaknya tanpa menyadari pentingnya ekosistem lingkungan atau keseimbangan hidup. Ya, mengambil sih boleh tapi pikirkan jangan berlebihan, apalagi mengikutkan hewan yang kecil-kecil untuk terbunuh.

Beberapa tempat pemburuan belut di Lombok kini mengalami kepunahan, misalnya di Tanah Maek, Kecamatan Masbagik, Lombok Timur. “Punahnya belut di tanah maik karena banyak orang yang sering pakai strong, akhirnya sampai anak-anak belut juga mati, “kata Nasrullah yang juga aktif mencari belut di  Masbagik, yang akhirnya pindah di tempat lain mencari, yaitu di Puncak Bukit Jeringo.

Lewat media sosial kampung media, saya pernah menulis “Budi Daya Belut di kampung media, sehingga beberapa sms dan telepon yang menghubungi saya kalau membutuhkan belut. Mereka beralasan bahwa sangat sulit menemukan belut sekarang. Lalu Rona yang salah seorang pembaca kampung media asal Mataram bahwa sekarang sulit menemukan belut dan bibit belut di Lombok. Tidak seperti dulu belut itu masih mudah untuk ditemukan. Ya, itulah akibat banyaknya pemburu belut yang sering menggunakan “strong”. 

Puncak Bukit Jeringo merupakan salah satu wilayah pebukitan yang terdapat di Kecamatan Pringgabaya, Kabupaten Lombok Timur. Pada wilayah ini terdapat sumber mata air yang mengalir dari hutan, sehingga banyak lahan di bawahnya yang becek atau berlumpur. Kondisi tanah seperti ini disenangi oleh belut. Wajar saja kalau sampai kini sering kita temukan pemburuh belut di puncak bukit jeringo.

Mencari belut sebaiknya bukan pada musim hujan, sebab ketika musim hujan kondisi tanah akan basah sampai pada bagian dalam. Belut dapat bersembunyi pada bagian tanah yang agak basah pada bagian agak dalam. Pada musim kemarau, yang mana ketika kondisi tanah yang mengalami basah atau lumpur yaitu agak dangkal, sehingga belut mudah naik ke atas untuk mencari makanan.

Sebaiknya melakukan pemburuan belut dengan tidak menggunakan aki untuk “strong”. Sebab dengan penggunaan “strong” akan merusak ekosistem lingkungan, termasuk biota air yang sebagai makanan belut, biar tidak terjadi kepunahan. Jelasanya, gunakanlah alat pancing belut yang disediakan di toko-toko pancing terdekat.

Bagi pembudi daya belut, yang mana ketika ingin mencari bibit belut, sebaiknya menggunakan cangkul untuk penggalian. Menggunakan pancing, tentu sulit menemukan anak-anak belut yang kecil. Jika digali dengan menggunakan cangkul, kitapun mudah untuk melihat bibit belut yang ada pada gumpalan-gumpalan tanah lumpur, baik yang berukuran sebesar anak kelingking jari, maupun yang sebesar lidi. () -03

 

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Advertisement

Artikel Terbaru