Kandang Kolektif, Sadar Lingkungan

Dahulu, ketika manusia belum mengalami kemajuan dalam hal teknologi, manusia memelihara hewan ternak di belakang rumah. Atau pun dengan melepaskan hidup bebas di tengah rumput ilalang (hutan). Namun di zaman teknologi modern ini, pemikiran manusia mengalami perubahan. Hewan ternak pun seperti sapi dipelihara di sebuah kandang khusus, yaitu “Kandang Kolektif”.

“Kandang kolektif” merupakan kandang ternak yang dibangun secara berkelompok pada sebuah petakan. “Kandang Kolektif” tersebut, sebenarnya juga merupakan pengembangan dari kandang ternak biasa yang diletakkan di belakang rumah dan terbangun secara tunggal.

Munculnya “Kandang Kolektif” tersebut didasari atas pemikiran manusia terhadap perkandangan yang baik dan dapat memberikan rasa nyaman pada hewan ternak. Selain itu, agar hewan ternak dapat meningkat efisiensi pemeliharaannya serta tidak menimbulkan polusi.

Salah satu “Kandang Kolektif” yang telah dibangun di wilayah Lombok Timur adalah “Kandang Kolektif” yang ada di Desa Puncak Jeringo, Labuhan haji, Lombok Timur. Keberadaan “Kandang Kolektif” di wilayah tersebut sangat menguntungkan pihak masyarakat, karena dapat membantu meningkatkan taraf perekonomian mereka.Bahkan dengan “Kandang Kolektif”, masyarakat justru merasa sadar akan kebersihan lingkungan. Sebelumnya, kotoran sapi tersebut terbuang di mana-mana.

Rusdi (23 tahun) mengatakan bahwa dengan “Kandang Kolektif” yang didirikan di desa Jeringo, hewan ternak (sapi) dapat terlindung dari gangguan, seperti terik matahari, hujan, binatang buas dan lain-lain. Selain itu, “Kandang Kolektif” menjadi tempat tinggal bagi hewan ternak (sapi) dan mereka juga berproduksi di kandang tersebut. “Kandang kolektif” tersebut juga akan memberikan kenyaman baik pada ternak, maupun pada pemelihara/penjaganya, dan dapat meningkatkan efesiensi pemeliharaan serta tidak menimbulkan polusi.

Rusdi pun juga mengatakan bahwa bahwa dengan “Kandang Kolektif” yang ada di Jeringo, juga memudahkan manajemen pemberian pakan, perkawinan, pengontrolan pertumbuhan ternak (pencatatan), memudahkan pengawasan dan perawatan, serta vaksinasi terhadap penyakit ternak, memudahkan dalam seleksi dan pelaksanaan kawin suntik, menghindari terjadinya pencurian ternak karena para peternak secara bergiliran ikut menjaga ternaknya dan dapat menghimpun para peternak dalam sebuah kelembagaan.
Hal lain yang disampaikan oleh Rusdi adalah bahwa dengan “Kandang Kolektif”, kotoran sapi dapat ditampung dalam suatu tempat untuk dijadikan pupuk atau biogas, dapat meningkatkan efisiensi penggunaan tenaga, biaya dan tanah untuk membangun kandang, serta memudahkan Dinas Peternakan atau instansi lain dalam membina dan memberikan pelayanan kepada para peternak yang tergabung dalam kandang tersebut. Untuk tujuan inovasi, teknologi dan informasi dalam bidang pertanian dan peternakan, maka pemeliharaan sapi dalam “Kandang Kolektif” dapat memudakan para petugas penyuluh pertanian lapangan (PPL).
Di sisi lain, Rusdi menuturkan bahwa berkembangnya “Kandang Kolektif” di Jeringo karena dilandasi juga oleh suatu harapan dari pihak masyarakat dan pemerintah setempat, yaitu agar Jeringo dapat menjadi sebagai “Bumi Seribu Sapi”.

Terkait dengan tujuan pemeliharaan sapi dengan pola “Kandang Kolektif” tersebut diatas, maka dianggap perlu untuk membuat kandang secara kolektif. Karena dengan pemeliharaan menggunakan pola “Kandang Kolektif” terdapat beberapa keunggulan baik pada usaha pembibitan maupun penggemukan sapi.

Mengenai syarat pembuatan “Kandang Kolektif” yang baik, sebagai berkut :
a. Terpisah dari rumah dan jaraknya cukup jauh minimal 10 m;
b. Mendapat cahaya sinar matahari pagi ;
c. Memberi kenyamanan bagi sapi dan yang memelihara serta memenuhi    persyaratan kesehatan   ternak;
d. Lantai sebaiknya semen/tanah yang dipadatkan, lantai harus dibuat lebih tinggi dari pada tanah sekitarnya dan mudah dibersihkan;
e. Ventiasi udara dalam kandang harus baik;
f. Memberi kemudahan bagi ternak dan pemeliharanya dalam melaksanakan pekerjaannya;
g. Tidak menyalahi tata ruang yang sudah ditetapkan oleh Daerah dan jauh dari pemukiman;
h. Sistem drainase harus baik dan dilengkapi tempat makan dan minum sapi serta bak desinfektan. () -05

 

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Advertisement

Artikel Terbaru