Atasi Sulit Air Dengan Sistem Giliran

Sudah hampir sebulan lamanya panen telah usai didaerah Narmada dan sekitarnya, para petani sudah menikmati hasil dari apa yang mereka telah usahakan saat musim tanam sebelumnya. Sekarang persiapan untuk musim tanam berikutnya mulai dilakukan, menyemai benih serta mengolah tanah dengan kegiatan mebajak sudah mulai mengisi kesibukan petani beberapa hari terakhir.

Tidak seperti musim tanam sebelumnya, setelah istirahat sekitar 2 minggu petani sudah mulai menggarap tanah sebagai persiapan untuk memulai musim tanam berikutnya. Namun sebulan sudah berlalu  sebagian besar petani terlihat belum menggarap sawahnya. Ini dikarenakan sulitnya mendapatkan air irigasi untuk mengairi sawah mereka.

Hujan yang tak kunjung turun menyebabkan air semakin sulit, tak hanya sumur-sumur mereka yang  mengering tapi  hamparan sawahpun mulai belah menganga seakan berteriak “kapan air datang”?, terkadang masalah sulitnya air irigasi sering menimbulkan masalah sosial baru dikalangan petani pemakai air. Sering terjadi percekcokan bahkan perkelahian antar petani karena masalah air.

Disubak Sembung setiap terjadi musim kemarau selalu menerapkan sistem gantian kepada para petani, volume air yang sangat sedikit dan hanya ada malam hari tidak menyurutkan semangat petani untuk menggarap sawahnya. Sarilam pekasih Sembung menceritakan bahwa pemakaian air irigasi dengan cara bergantian sudah diterapkan sejak dulu disaat musim kemarau, jumlah air yang datang sangat sedikit sehingga kalau dibagi kepetani secara bersamaan jelas tidak akan bisa mengairi sawah mereka secara keseluruhan.

Dalam sehari semalam dijadwalkan satu orang petani untuk mengairi sawahnya sehingga mereka dapat mulai mengolah sawahnya.  Meski harus menjadwal waktu tanam bagi setiap petani sehingga sebagian mereka agak terlambat menanam padi karena harus menunggu  jadwal yang ditetapkan oleh pekasih, namun sistem bergilir itu sangat efektif diterapkan saat musim kemarau seperti ini.

Rinawe, salah seorang petani disubak Sembung mengatakan, “kalau sudah musim kemarau untuk mendapatkan air sangat sulit, apalagi sawah kami berada sangat jauh daru sumber air, dengan cara bergilir mengalirkan air kesawah membuat kami bisa teratur menggunakan air meski agak sidikit terlambat.” (Abdul Satar) -01

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru