logoblog

Cari

Limbah Laut Menuju Seni

Limbah Laut Menuju Seni

Banyak hal yang dapat ditulis ketika berkunjung ke Pulau Kaung. Mulai dari aspek sejarah, kearifan lokal, pariwisata, kehidupan sosial ekonomi, seni,

Ide Kreatif

KM JONG CELEBES
Oleh KM JONG CELEBES
13 Agustus, 2019 11:56:22
Ide Kreatif
Komentar: 0
Dibaca: 782 Kali

Banyak hal yang dapat ditulis ketika berkunjung ke Pulau Kaung. Mulai dari aspek sejarah, kearifan lokal, pariwisata, kehidupan sosial ekonomi, seni, dan berbagai aspek lainnya. Namun kali ini, penulis akan bertutur tentang salah satu bentuk kerajinan seni yang menjadikan pulau nelayan ini sering dikunjungi oleh penduduk dari luar daerah, bahkan wisatawan manca negara. Bentuk kerajinan seni yang cukup mengangkat nama harum pulau kecil ini adalah pengolahan limbah laut menjadi karya seni yang bernilai ekonomi.

Limbah laut yang dimaksud di sini adalah bukan sisa buangan atau material sisa yang dianggap tidak memiliki nilai yang dihasilkan dari suatu proses produksi, baik industri maupun domestik (rumah tangga). Namun limbah laut di sini adalah limbah organik yang dihasilkan dari proses alam. Menurut Hieronymus Budi Santoso, pengertian limbah adalah bahan yang dibuang/ terbuang dari hasil aktivitas manusia atau berbagai proses alam, dan tidak memiliki nilai ekonomi, bahkan dapat merugikan manusia.

Limbah organik dari laut yang menjadi bahan olahan para pengrajin seni di Pulau Kaung adalah berupa kulit kerang yang diperoleh dari dalam laut, dan atau yang terdampar di pesisisr pantai, berbagai jenis tumbuhan laut yang telah mengalami proses alam sehingga terbuang dan hanyut di dalam laut, bahkan terdampar di pesisir pantai. Tumbuhan cemara laut, tumbuhan akar bahar (urat batu), dan tumbuhan akar lurus yang terlepas dari pohonnya menjadi bahan bagi pengrajin seni di Pulau Kaung untuk diolah menjadi karya seni, seperti hiasan dinding, hiasan di atas meja atau di atas lemari, atau pun di sudut-sudut ruangan, serta  berbagai macam bentuk aksesoris. Bahkan sisa-sisa bagian tubuh dari binatang laut seperti  kulit penyu,tulang ikan hiu, ekor ikan pari yang ditemukan hanyut di dalam laut atau terdampar di bagian pesisir pantai dapat dimanfaatkan sebagai karya seni dan bernilai ekonomi oleh pengrajin seni yang ada di Pulau Kaung.

Berkunjung ke Pulau Kaung dengan tujuan utama untuk menjelajahi pusat pengrajin seni adalah sesuatu yang menyenangkan. Kita dapat menyaksikan aneka ragam bentuk seni kerajinan dari limbah laut yang sungguh luar biasa cantiknya. Namun rata-rata pengrajin seni yang ada di pulau ini lebih cenderung mendaur limbah yang berupa akar bahar (urat batu) menjadi aksesoris,  seperti gelang, cincin, dan mainan kalung. Syahria (53 th) adalah salah seorang pengrajin seni dari pulau ini dengan memanfaatkan limbah akar bahar (urat batu) dari laut untuk dijadikan gelang dan hiasan di atas meja atau dinding. Namun menurut Syahria bahwa selama menjalani profesinya sebagai pengrajin seni bentuk, ia pun lebih banyak mendapatkan pesanan atau menjual hasil karya seninya berupa gelang.