logoblog

Cari

Watol, Anak Perkawinan Budaya Sasak Dan Zero Waste

Watol, Anak Perkawinan Budaya Sasak Dan Zero Waste

Berangkat dari keprihatinan akan semakin ditinggalkannya budaya memainkan dan menonton pertunjukan Wayang Sasak. Dan semakin banyaknya produksi sampah pelastik, Sekolah Pedalangan

Ide Kreatif

Novita Hidayani
Oleh Novita Hidayani
11 Maret, 2019 10:44:09
Ide Kreatif
Komentar: 0
Dibaca: 952 Kali

Berangkat dari keprihatinan akan semakin ditinggalkannya budaya memainkan dan menonton pertunjukan Wayang Sasak. Dan semakin banyaknya produksi sampah pelastik, Sekolah Pedalangan Wayang Sasak digandeng Rinjani Geopark memperkenalkan sebuah inovasi baru yakni Watol, atau Wayang Botol kepada masyarakat Lombok di Inspiratif Expo, (10/3).

Watol sendiri merupakan wayang yang dibuat dari aneka sampah plastik, seperti botol dan gelas bekas air mineral, sterofoam bekas makanan, sedotan plastik bekas, hingga berbagai plastik bekas bungkus makanan ringan. Semuanya dirangkai sedemikian rupa hingga membentuk wayang berbagai karakter. Kabar baiknya, Watol ini berhasil mencuri tempat di hati anak-anak, baik untuk dimainkan dan ataupun dipelajari.

"Di luar dugaan kami, anak-anak selalu takjub menyaksikan pertunjukan wayang sasak. Dan kami sangat senang karena ternyata anak-anak juga antusias belajar memainkan dan membuat wayang botol ini. Tak hanya menjadi penonton, tetapi terlibat langsung dalam pertunjukan," jelas Abdul Latief Apriaman, direktur SPWS.

Sementara itu menurut Fitri Rachmawati, Watol ini adalah pemikat sekaligus jembatan bagi anak-anak untuk menekuni wayang sasak di kemudian hari. Penasihat SPWS ini menceritakan bagaimana Watol berhasil menyihir anak-anak untuk meninggalkan gawai mereka dan bermain wayang. Mereka tampak antusias setiap kali membuat watol mereka sendiri dan memainkan aneka musik tradisional pengiring wayang. 

"Sangat susah membuat anak mau meninggalkan gadget mereka, tapi watol ini mampu mengalihkan perhatian mereka dengan sesuatu yang menyenangkan," jelas jurnalis yang akrab disapa Pikong ini.

 

Baca Juga :


Dzikri cahayadi alamsyah (15) dan Muhammad Adrian Rahmady (13) siswa angkatan kedua SPWS  mengaku memiliki ketertarikan khusus terhadap wayang sasak sejak belajar membuat watol di SPSW. Kedua dalang yang memainkan lakon Dilan dan Milea dalam pertunjulan tersebut merasa sangat senang bisa menjadi siswa SPWS. 

"Mau belajar terus soalnya asyik!" seru Dzikri. 

Kedepannya, Abdul Latief dan Pikong menaruh harap pada tangan-tangan siswa siswi SPWS agar kesenian wayang sasak dapat terus lestari dan semakin besar di tengah perkembangan budaya modern yang  begitu marak. (novita-tim media)



 
Novita Hidayani

Novita Hidayani

email: hidayaninovita@gmail.com facebook: Novita Hidayani twitter: @yfoundme

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan