logoblog

Cari

NTB Bangkit: Langkah Sederhana Berdamai Dengan Bencana Alam

NTB Bangkit: Langkah Sederhana Berdamai Dengan Bencana Alam

Nusa Tenggara Barat selalu memiliki harapan baru untuk bangkit. Gempa yang “bertamu” di provinsi tercinta kita NTB, mengakibatkan dampak yang tidak

Ide Kreatif

Cindy Suci Ananda
Oleh Cindy Suci Ananda
24 November, 2018 22:55:48
Ide Kreatif
Komentar: 0
Dibaca: 1173 Kali

Nusa Tenggara Barat selalu memiliki harapan baru untuk bangkit.

Gempa yang “bertamu” di provinsi tercinta kita NTB, mengakibatkan dampak yang tidak hanya dalam bentuk fisik namun juga psikis. Semua elemen masyarakat merasakan guncangan hebat dengan magnitudo 7.0 SR. Tua, muda, anak-anak bahkan balita merasakan guncangan akibat aktivitas Sesar Naik Flores. Ratusan nyawa hilang, ribuan rumah hancur, ribuan orang mengungsi, hal ini tentu menyebabkan trauma psikis yang mendalam.

Kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi serta trauma healing pasca gempa sangat gencar dilaksanakan oleh pemerintah dan berbagai pihak. Tak lupa pula para relawan-relawan tangguh dalam membantu para korban, serta donator dari berbagai penjuru yang bahu membahu mengulurkan tangan dan bantuan untuk Lombok. Oleh karena itulah, NTB selalu memiliki harapan baru untuk bangkit.

NTB perlahan mulai berbenah. Tagline #NTBangkit mampu menyulutkan semangat masyarakat NTB untuk bangkit dan tidak terpuruk dengan bencana yang terjadi.

Mengutip kalimat dari Gubernur NTB, Bapak Dr. Zulkieflimansyah yakni “Berdamai dengan Gempa”. Salah satu cara berdamai terbaik dengan gempa (bencana) adalah dengan mempersiapkan diri menghadapi bencana tersebut. Gempa bumi merupakan bencana alam yang tidak dapat diprediksi kapan dan di mana akan terjadinya. Gempa bumi yang mengguncang Provinsi Nusa Tenggara Barat pada Agustus 2018 lalu dan disusul dengan gempa bumi dan tsunami di Palu, Donggala, Sulawesi Tengah, tidak dapat diprediksi. Perwakilan BMKG pun dalam menyatakan bahwa tidak ada alat yang bisa memprediksi kejadian gemp bumi.

Menurut Dosen Teknik Geofisika, Institut Teknologi Bandung yang dikutip dalam laman (reginonal.kompas.com), bahwa gempa Lombok yang terjadi pada pertengahan tahun 2018 memiliki pola yang hampir sama dengan gempa yang terjadi pada 1963, 1976 dan 1979, yakni disebabkan oleh aktivitas Sesar Naik Flores. Tambahannya pula, kawasan Bali dan Nusa Tenggara memiliki tatanan teknonik yang aktif dan rumit, hal ini dapat memicu terjadinya gempa. Tatanan tersebut antara lain Lempeng Kerak Samudra Indo-Australia, Lempeng Benua Euarasia. Oleh karena itu, meski kejadian gempa bumi tidak dapat diprediksi, salah satu langkah yang tepat untuk dilakukan adalah berdamai dengan gempa bumi.

Cara berdamai dengan gempa bumi kita bisa mencontoh hal-hal sederhana yang dilakukan oleh Jepang. Mendengar kata Jepang, deskripsi yang muncul adalah keindahan bunga sakura atau negeri matahari terbit. Dua hal tersebut memang sangat cocok mendeskripsi Jepang. Namun jangan dilupakan juga bahwa Jepang adalah negeri Gempa. Tidak hanya Gempa, badai besar typhoon kerap melanda beberapa wilayah negeri ini. Selain membangun bangunan yang tahan terhadap gempa, ada beberapa hal sederhana namun strategis yang dilakukan dalam upaya meminimalisir dampak bencana alam.

Berikut ini saya merangkum tiga hal sederhana ini dapat aplikasikan di wilayah NTB sebagai upaya meminimalisir efek dari bencana alam gempa bumi:

1. Mempersiapkan perlengkapan darurat (emergency bag)

Pasca gempa bumi (bencana) hal yang akan terjadi adalah kekurangan bahan makanan, terutama di daerah pengungsian. Terlebih ketika bencana, banyak masyarakat yang menyelamatkan diri ke tempat yang jauh dan terisolir dan tidak data dijangkau dengan cepat untuk penyaluran makanan. Oleh karena itu penting untuk menyiapkan emergency bag. Emergency bag ini berisi peralatan darurat yang mungkin dibutuhkan sesaat setelah menyelamatkan diri atau mengungsi.

Emergency Bag:

 

Baca Juga :


  • Berisi peralatan seperti air minum, nasi darurat, biskuit, tissue basah, masker, sarung tangan, selimut, senter, tikar kecil, obat-obatan, dll.
  • Karena bersifat emergency (darurat) maka tas tersebut harus diletakkan di tempat yang mudah dijangkau saat hendak menyelamatkan diri, misalnya di samping tempat tidur, atau dibalik pintu rumah.

2. Sosialisasi mengenai Pencegahan Bencana (disaster prevention)

Sosialisasi mengenai pencegahan bencana (disaster prevention) merupakan hal yang sangat penting untuk digalakan. Banyak masyarakat yang belum tahu tentang bagaiamana cara menyelamatkan diri dengan benar ketika terjadi gempa bumi. Kegiatan sosialisasi ini dapat dilakukan melalui berbagai cara dengan memanfaatkan berbagai media, seperti media sosial, pamphlet, brosur, poster yang dipasang di tempat-tempat umum seperti mall, pusat wisata, koran, dll. Sosialisasi dapat juga melalui pesan suara radio, siaran televisi, atau dapat diumumkan pada pengeras suara di pusat perbelanjaan yang ramai pengunjung, dll.

Salah satu contoh cara sosialisasi yang dilakukan di Jepang terutama kepada penduduk asing dilakukan dengan menggunakan mobil simulasi gempa. Mobil tersebut di desain untuk melakukan sosialisasi kepada masyarakat yang mana masyarakat dapat merasakan bagaimana rasanya guncangan gempa yang terjadi secara langsung.

 

3. Melatih Mental Anak-anak terhadap Gempa sejak Dini

Keceriaan anak-anak NTB sempat hilang sebentar karena gempa. Mereka merasakan trauma yang cukup kuat akibat gempa yang terjadi secara beruntun. Trauma tersebut cukup membekas diingatan mereka, akan tetapi trauma tersebut tidak boleh terus berlarut-larut. Anak-anak NTB merupakan anak-anak yang kuat dan cerdas. Oleh karena itu, penting untuk membentuk mental anak-anak terkait upaya mencegah akibat yang ditimbulkan oleh bencana (disaster prevention).

Seperti yang dilakukan oleh murid sekolah dasar di Jepang, yakni Hamamatsu Elementary School (Fuzoku Syo). Pemahaman mereka dalam hal disaster prevention sangat baik, tentunya mereka belajar dengan cara sendiri yang sesuai dengan dunia anak-anak. Pemahaman tersebut ditampilkan melalui pertunjukan drama yang sangat menarik. Drama yang ditampilkan merupakan bagian dari mata pelajaran Bahasa Inggris. Teknik belajar ini dinilai sangat efektif selain untuk belajar Bahasa inggris, namun juga melatih mental mereka untuk mempersiapkan diri dalam megahadapi bencana alam. Teknik sederhana seperti ini dapat direplikasi untuk dilakukan di NTB, menyelipkan pembelajaran untuk mengenal bencana alam yang dintegrasikan dengan mata pelajaran tertentu dan dikemas dengan metode belajar yang menarik bagi anak-anak.

Demikianlah tiga hal yang bisa dilakukan di NTB untuk berdamai dengan gempa bumi. Semoga ketiga hal di atas dapat diterapkan dan dapat bermanfaat untuk kebangkitan Provinsi NTB. Percayalah NTB selalu memiliki harapan untuk bangkit dan menjadi lebih baik lagi.

 



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan