logoblog

Cari

Back to Nature ‘Agensi Hayati Solusi Masalah Petani’

Back to Nature ‘Agensi Hayati Solusi Masalah Petani’

Pada umumnya, masyarakat Indonesia adalah masyarakat petani dan sebab itulah Tanah Pertiwi ini dikenal dengan Negara agraris dengan ratusan juta petaninya.

Ide Kreatif

KM. Sukamulia
Oleh KM. Sukamulia
24 April, 2014 07:19:48
Ide Kreatif
Komentar: 0
Dibaca: 15085 Kali

Pada umumnya, masyarakat Indonesia adalah masyarakat petani dan sebab itulah Tanah Pertiwi ini dikenal dengan Negara agraris dengan ratusan juta petaninya. Hanya saja, ahir-ahir ini negera kita sering menginfor bahan pangan dari luar negeri, baik beras, sayur, dan lainnya. Alasan pemerintah melakukan itu adalah karena hasil panen masyarakat Indonesia yang tidak pernah optimal. Hal itu disebabkan oleh rusaknya lingkungan pertanian masyarakat Indonesia.

Ketahuilah bahwa penggunaan bahan-bahan sintesis (kima) yang berupa pupuk, insektisida, fungisida, herbisida, dan pestisida secara terus menerus dan berlebihan dapat merusak struktur tanah pertanian dan hasil pernanian yang kita konsumsi juga mengandung racun akibat endapan obat-obatan sintesis yang digunakan untuk merawat dan merangsang produktifitas tanaman. Sebab itulah, kita kemudian sering diserang oleh berbagai penyakit. Terutama penyakit dalam, seperti penyakit jantung, tekanan darah, rematik, kencing manis, dan sebagainya.

Tidak optimalnya hasil pertanian yang diperoleh para petani disebabkan oleh jenuhnya tanah pertanian akan bahan-bahan kimia, serta kebalnya wereng, hama, fungi, dan insekta dari bahan-bahan racun sintesis. Hal ini harus menjadi bahan perhatian kita bersama, supaya kedepannya hasil pertanian di daerah kita pada khususnya dan di bumi pertiwi pada umumnya dapat mencukupi kebutuhan masyarakat, sehingga pemerintah tidak perlu lagi banyak menginfor bahan pangan dari luar negeri.

Sebagai sumber infirasi bagi kita adalah petani di Dusun Sukamulia, Desa Pohgading Timur, Kecamatan Pringgabaya yang mengembangkan sistim tanam tumpang sari dengan tanaman pokok padi, tembakau, dan cabe rawit.

Sebelum tahun 1994, hasil pertanian masyarakat setempat melimpah ruah sebab mereka menggunakan bahan-bahan organik dalam pengolahan lahan pertanian, serta perawatan tanaman yang mereka budidayakan. Misalkan, bahan yang digunakan sebagai pupuk adalah bahan-bahan kompos yang bersumber dari kotoran hewan peliharaan (sapi, kambing, kerbau, dan ayam). Untuk merawat tanaman dari gangguan hama dan wereng, kebanyak mereka menggunakan bahan-bahan alami berupa daun nimba, getah kekatok, tembako, dan abu. Mereka juga melakukan pengolahan tanah dengan cara-cara tradisional, seperti pembajakan sawah dengan tenaga kerbau/sapi.

Penggunaan bahan-bahan organik tersebut sangat efektif untuk menjaga stabilitas tanah, serta meningkatkan kesuburan lahan pertanian. Selain itu hasil produktifitas tanaman pertanaian mereka melimpah ruah. Sehingga masyarakat Dusun Sukamulia hidup makmur dari hasil pertanian mereka pada saat itu.

Namun, semenjak tahun 1995, petani Dusun Sukamulia mulai menggunakan pupuk kimia dan obat-obatan sintesis dan mengolah tanah dengan tenaga mesin, seperti traktor. Mereka berangsur meninggalkan penggunaan bahan-bahan organik sebab obat-obatan dan pupuk sintesis seakan menyulap perkembangan dan produksifitas tanaman mereka. Hasil pertanian masyarakat mengalami peningkatan yang derastis. Namun itu hanya berlangsung sekitar 7 tahun. Mulai pertengahan tahun 2002 hasil pertanian masyarakat setempat merosot dan bahkan sebagian besar petani tidak mendapatkan padi dan tembakau akibat serangan wereng dan hama.

Masyarakat mulai kebingungan menyaksikan tanah pertaniannya yang tidak lagi dapat member hasil yang optimal. Bagaimana tidak, setiap mereka memberikan pupuk bagi padi atau tembakau yang mereka pelihara, tanaman padi bukan berubah menjadi lebih bagus, namun daun-daun padi tersebut malahan berubah menjadi merah dan mengering. Demikian juga dengan tanaman tembakau yang setiap diberikan pupuk sintesis akan menyebabkannya busuk akar dan batang. Ini tentu saja membuat stress bagi petani di Dusun Sukamulia.

Melihat kenyataan yang ada, para petani kemudian mencari berbagai macam solusi dengan memberi berbagai macam pupuk sintesis dengan takaran yang berlebihan. Mereka juga mencoba menggunakan obat-obatan sintesis dengan dosis tinggi. Kenyataannya, tanah pertanian mereka semakin rusak dan ahirnya gagal panenlah yang menimpa.

Dari kurun waktu 2005 hingga tahun 2010, setidaknya petani di Dusun Sukamulia sudah mengalami 4 kali gagal panen tanaman padi dan tembakau, serta mendapatkan hasil yang minim dari tanaman cabe rawit yang menjadi toggak perekonomian mereka. Hal inilah yang kemudia menyebabkan banyak masyarakat setempat meninggalkan kampung halaman untuk mencari nafkah di negara tetangga (Malaysia, Berunai Darussalam, dan Arab Saudi). Mereka lebih memilih menjadi TKI dari pada mengolah tanah pertanian yang sudah tidak bisa lagi menjamin keberlangsungan hidup keluarga mereka.

Sebagian petani yang masih bertahan terus mencoba untuk merawat tanah pertanian mereka dengan tertatih-tatih. Hingga pada pertengahan tahun 2011, seorang pemuda yang akrabnya dipanggil Lex alias Badri memiliki ide untuk meneliti dan mengkaji penyebab dari kemerosotan hasil pertanian masyarakatnya. Setelah beberapa lama melakukan pengkajian, pemuda yang berlatar pendidikan Pendidikan Biologi itu menyimpulkan bahwa penyebab terjadinya kemerosotan hasil pertanian masyarakat Dusun Sukamulia dan sekitarnya adalah rusaknya struktur tanah akibat penggunaan pupuk dan obat-obatan sintesis yang berlebihan. Solusi yang ditawarkan kepada keluarga dan petani disekitarnya adalah “Back To Nature”. Artinya, petani dihimbau untuk menggunakan agensi hayati seperti pupuk kompos dan pestisida alamai yang dapat dibuat dengan bahan-bahan organik yang mudah didapatkan masyarakat.

Setelah dilakukan percobaan bersama beberapa orang petani di Dusun Sukamulia dengan menaburkan bahan-bahan organik (kotoran kambing, kotoran ayam, dan sisa-sisa pakan ternak) pada saat persiapan lahan dapat mengembalikan kesuburan tanah secara berangsur. Ia juga mencoba membuat Pupuk Organik Cair (POC) dari bahan ampas pisang dan kotoran kambing yang difermentasi menggunakan tape dan gula. Awalnya petani yang diajaknya meras ragu untuk menggunakan POC tersebut dan bahkan tidak jarang masyarakat yang mengatakan bahwa ide Lex tidak mungkin bisa dimanfaatkan. Namun, setelah dicoba oleh beberapa orang petani (kerabat dan kawan-kawan Lex), ternyata POC tersebut dapat meningkatkan pertumbuhan dan produktifitas tanaman mereka.

Melihat keberhasilan beberapa orang tadi, maka petani Dusun Sukamulia yang lain juga terobsesi untuk mencoba menggunakan POC buatan saudara Badri. Karena, banyak diminati oleh warga, maka Badri mengajak 4 orang temannya untuk membuat kelompok pembuat agensi hayati yang dinamakan “Kelompok ASA Jaya”. Lewat kelompok tersebut mereka mencoba menuangkan ide-ide kereatif untuk membuat agensi hayati lainnya demi meningkatnya hasil pertanian masyarakat Dusun Sukamulia dan orang-orang lain yang mau menggunakannya.

Percobaan demi percobaan terus dilakukan oleh anggota kelompok tersebut dan pada pertengahan tahun 2012  ditemukanlah beberapa jenis agensi hayati yang bisa digunakan sebagai alternative untuk mengatasi beberapa permasalahan yang dihadapi oleh petani kami yang ada di Dusun Sukamulia Desa Pohgading Timur. Agensi hayati tersebut adalah pestisida yang dibuat dari bahan daun sirsak belanda dengan campuran tembakau dan pestisida dari bahan daun/biji nimba.

Pestisida alami yang dibuat dari bahan daun sirsak belanda dan tembakau itu ternyata dapat menjaga tanaman budidaya dari gangguan hama ulat dan belalang. Dan ternyata, pestisida organik tersebut lebih efektif untuk melindungi tanaman padi, tembakau, serta tanaman lainnya dari gangguan ulat pengerak daun, ulat pengerak batang, dan buah.

Pestisida alami yang dibuat dari bahan daun/buah nimba ternyata dapat menjaga tanaman budidaya dari serangan berbagai jenis insekta, seperti walang sangit, walang coklat, wereng dan sejenisnya. Kenyataannya, pestisida organik tersebut dapat melindungi tanaman dari serangan insekta, sehingga petani bisa mendapatkan hasil yang optimal.

 

Baca Juga :


 

Penggunaan agensi hayati ternya dapat mengembalikan dan menjaga kesuburan tanah sehingga sejak awal tahun 2013 yang lalu, petani Dusun Sukamulia mendapatkan hasil panenen yang lebih baik dari sebelumnya. Tanaman budidaya mereka berkembang dan berproduksi lebih baik jika dibandingkan dengan hasil panen tahun-tahun sebelumnya. Hal ini, tentunya sangat membahagiakan masyarakat petani setempat. Dan melihat hasil tersebut, maka mereka berbondong-bondong kembali ke agensi hayati sambil berangsur-angsur meninggalkan bahan-bahan sintesis.

Melihat kenyataan yang ada, kiranya kita selaku petani harus “Back To Nature” dan mulai bergegas untuk memanfaatkan agensi hayati dalam pengelolaan tanah pertanian. Sebab selama ini lahan pertanian yang kita miliki sudah jenuh oleh bahan-bahan sintesis yang bersumber dari penggunaan pupuk dan bahan-bahan sintesis lainnya secara terus menerus. Lebih-lebih, petani tradisional yang ada di lingkungan kita kebanyakan menggunakan pupuk sintesis dengan tidak tepat dosis dan guna.

Hal ini kiranya dapat menjadi pertimbangan kita semua agar kedepannya kita dapat memperoleh hasil pertanian yang lebih optimal, serta tanah pertanian kita tetap terjaga kesuburannya. Di lain sisi, keterlibatan pemerintah juga sangat kita butuhkan, terutama untuk memberikan penyuluhan dan diklat dalam pengembangan agensi hayati dalam bidang pertanian.

Selain itu, pemerintah (melalui Dinas Pertanian) dan pihak-pihak terkait juga harus memperhatikan keberadaan kelompok-kelompok tani yang kini sudah mulai mengembangkan agensi hayati dengan memberikan penyuluhan dan pendampingan yang berkesinambungan supaya mereka lebih mahir dan dapat mengembangkan hasil-hasil temuan mereka demi kemajuan pertanian di daerah kita.

Petani di Dusun Sukamulia Desa Pohgading Timur pada khususnya dan petani Lombok Timur pada umumnya berharap, semoga pemerintah dan pihak-pihak terkait dapat memberikan perhatian yang optimal terhadap penggunaan agensi hayati dalam bidang pertanian sebab penggunaan bahan-bahan sintesis (kimia) sudah tidak menjamin bagi keberlangsungan pertanian. Mereka juga berharap, supaya pemerintah berkenan memberikan bantuan berupa modal stimulant untuk mengembangkan usaha pertanian, termasuk usaha pembuatan dan pengembangan agensi hayati bagi tanah pertanian mereka.

Semoga informasi ini dapat dijadikan sebagai sumber insfirasi bagi pembaca dan kawan-kawan Kampung Media. Kami yakin, saudara-saudari sekalian memiliki ide kreatif yang lebih jitu untuk meningkatkan hasil pertanian pada masa kini dan masa-masa yang akan datang. (03)

Let’s Back To Nature………………

Mohon maaf atas segala kekurangan

Terimaksih atas segala perhatian

Salam sejahtera untuk kerabat Kampung Media.

 

Oleh: Asri, S. Pd



 
KM. Sukamulia

KM. Sukamulia

Nama : Asri, S. Pd TTL : Sukamulia, 02 Januari 1985 Jenis Kelamin: Laki-laki Agama : Islam Pekerjaan : Swasta Alamat, Dusun Sukamulia Desa Pohgading Timur Kec. Pringgabaya No HP : 082340048776 Aku Menulis Sebagai Bukti Bahwa Aku Pernah Ada di Dunia

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan